
SAAT bumi Myanmar berguncang hebat menjelang hari kemenangan, duka menyelimuti ribuan keluarga. Namun dari negeri jauh bernama Indonesia, hadir sebuah harapan. Bukan hanya membawa bantuan, tapi juga membawa empati. Inilah kisah perjuangan Tim Kemanusiaan Baznas RI yang datang bukan hanya untuk memberi, tapi juga untuk merangkul luka dan membangun semangat baru bagi para penyintas.
Ketika dunia bergemuruh dengan keprihatinan, ada salah satu tim yang cepat merespon dan bergerak tanpa kenal lelah, dengan misi mulia untuk membantu mereka yang sangat membutuhkan pertolongan. Tim Kemanusiaan Badan Amil Zakat Nasional Republik Indonesia (Baznas RI), dengan semangat yang tak tergoyahkan, ikut serta dalam misi kemanusiaan ini.
Di bawah komando Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tugas mereka dimulai dari Jakarta, melalui perjalanan udara yang penuh tantangan, dan berakhir di Naypyidaw, untuk menyalurkan donasi kepada para penyintas. Dengan penuh tekad dan harapan, memulai perjalanan panjang yang mengantarkan mereka ke pusat bencana. Tidak hanya membawa bantuan logistik dan medis, namun juga semangat solidaritas yang tinggi.
Ahad, 31 Maret 2025, saat takbir menyongsong Lebaran berkumandang, adalah hari pertama perjalanan misi humanis Badan Amil Zakat Nasional. Kepala Biro Urusan Rumah Tangga (URT) dan Protokol Baznas RI, Tito Kurniawan, mendapat tugas perdana, berangkat bersama Tim Aju Satgas Kemanusiaan Pemerintah RI yang dikoordinasi BNPB. Senin, 1 April 2025, lima orang tim SAR dari Baznas Tanggap Bencana (BTB), ikut diterbangkan ke Myanmar. Mereka adalah Taufiq Hidayat (koordinator), Ade Hilman, Marwan, Sandi Setia Mihardja, dan Heru Jatmiko.
Pukul 09:00 WIB, Tito, bertolak dari rumah di Cibinong, Jawa Barat, ke kantor BNPB untuk menghadiri agenda briefing singkat dan pelepasan. Bakda zuhur, tim bergerak ke Lanud Halim Perdanakusuma, mengikuti apel kesiagaan yang dipimpin Wakil Menteri Pertahanan, Donny Ermawan Taufanto.
Pada 15:30 WIB tim terbang dan transit di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh, untuk persiapan dan konsolidasi lanjutan. Satgas Kemanusiaan bertemu dengan rombongan lainnya, saling memberikan semangat dan memastikan setiap kebutuhan logistik siap dikirim ke Myanmar. “Keberangkatan ini bukan sekadar fisik-material, tetapi juga perjalanan spirit-emosional yang menguji ketangguhan mental setiap anggota tim dalam mengimplementasikan misi kemanusiaan,” ujar Tito.
Naypyidaw, Saksi Bisu Kegetiran
Saat berada di udara Naypyidaw dan di atas negeri yang dulu bernama Burma ini, tim BAZNAS menyaksikan kenyataan memilukan dari dampak gempa yang baru saja melanda. Pengganti Ibu Kota Negara Yangon sejak 2005 tersebut, yang kerap tampak sepi kian sunyi hingga menjadi saksi bisu kegetiran pascabencana.
Bangunan-bangunan yang runtuh, jalan-jalan yang retak, dan ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal. Dalam sekejap, para anggota tim menyadari bahwa tugas mereka jauh lebih besar dari sekadar menyalurkan bantuan material. “Kami harus memberikan harapan, mengingatkan para korban bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi cobaan ini,” kata Tito menahan haru.
Dari laporan lapangan tim lintas negara, mereka mendapatkan informasi tentang warga yang sebagian besar masih terkejut dan syok, akibat tragedi kemanusiaan tersebut. Dari beragam rekaman video yang beredar, tampak ibu-ibu dengan anak-anak mereka terlihat duduk termenung dengan tatapan kosong, sementara banyak pria paruh baya dan renta, mencoba menenangkan istri, anak dan cucu mereka.
Mereka adalah wajah-wajah yang kini menjadi simbol dari kerentanan dan keputusasaan, yang muncul dalam waktu yang bersamaan.
Namun, kehadiran tim Baznas, BNPB dan segenap Satgas Kemanusiaan Pemerintah RI, dengan bantuan pangan, obat-obatan, dan logistik lain yang mereka bawa, memberi sedikit kelegaan. “Kami datang untuk membantu, untuk merasakan apa yang kalian rasakan, dan kami berjanji tidak akan meninggalkan kalian sampai bisa tersenyum kembali,” ucap Tito dengan penuh empati.
Bantuan yang Penuh Harapan
Donasi yang dibawa oleh tim Baznas bukan hanya dalam bentuk material. Mereka juga berusaha untuk membangun kembali semangat hidup para korban. Para anggota tim bekerja tanpa lelah akan mendistribusikan makanan, pakaian, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya. Baznas juga menyiapkan tim medis untuk memberikan perawatan bagi penyintas yang sakit dan terluka.
Di tengah panas terik namun angin bertiup semilir, sebagai bagian dari Tim Kemanusiaan Baznas RI, Tito mendekati seorang warga yang tampak kebingungan. Dengan senyum tulus, ia memberikan sekotak makanan, hadiah yang sederhana namun penuh makna. "Ini untukmu," kata pembina grup musik religi Baznas, Z-Band ini.
“Untuk mengingatkanmu bahwa masih ada yang peduli.” Air mata mulai mengalir di pipi sang penyintas, bukan karena kesedihan, tetapi karena dia merasa ada yang memperhatikan.
“Bantuan ini mungkin tidak bisa menggantikan apa yang telah hilang,” kata Taufiq Hidayat, Wakil Ketua Baznas Tanggap Bencana (BTB) yang sudah terlibat dalam misi kemanusiaan selama bertahun-tahun.
“Namun, kehadiran kami di sini untuk mereka adalah bukti bahwa kasih sayang dan empati tak mengenal batas. Kami hadir untuk memberi harapan baru.”
Di balik kisah haru ini, ada banyak tantangan yang harus dihadapi oleh tim Baznas. Mulai dari kondisi cuaca yang panas, jalur logistik yang luas, hingga kendala komunikasi dengan pihak lokal. Namun, semangat pantang menyerah dari setiap anggota tim memastikan bahwa segala tantangan tersebut dapat diatasi.
“Perjalanan ini bukan hanya tentang menyampaikan bantuan, tetapi juga tentang membangun kepercayaan,” kata Tim Kemanusiaan Baznas untuk Gempa Myanmar ini.
“Kami tidak datang untuk memberi, kami datang untuk berbagi, untuk menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian.”
Meski baru beberapa hari bekerja keras di Myanmar, selanjutnya Baznas terus melanjutkan misi dengan mengirimkan paramedis dan bantuan obat-obatan.
“Kami bekerja keras membantu penyintas, hingga nanti kami bisa pulang dengan hati yang penuh keharuan, kenangan dan kebahagiaan telah membantu sesama. Meskipun misi kemanusiaan ini kelak akan berakhir, semangat yang ditinggalkan tetap hidup di hati setiap anggota tim dan setiap orang yang kami bantu.”
Sebab, lanjut Taufiq, ini bukan hanya tentang donasi yang diberikan, tetapi juga tentang keberanian, harapan, kebersamaan dan kepedulian pada kemanusiaan, yang menjadi kunci untuk mengalahkan segala kesulitan.
“Baznas dan Satgas Kemanusiaan Indonesia membuktikan bahwa di tengah bencana, ada kebaikan yang bisa dihadirkan, dan bahwa solidaritas antarbangsa adalah kekuatan terbesar yang dimiliki umat manusia,” ujar dia.
Dari tanah yang jauh, tim Baznas RI membawa lebih dari sekadar kotak bantuan. Mereka membawa hati yang peduli, semangat yang tulus, dan keyakinan bahwa di tengah puing-puing, harapan bisa tumbuh kembali. Ketika mereka kembali ke tanah air, bukan hanya cerita yang mereka bawa, tetapi juga senyum, pelukan, dan rasa syukur dari mereka yang pernah merasa dilupakan. Karena kemanusiaan tak mengenal batas negara—ia hanya mengenal cinta dan kepedulian. (RO/Z-10)